KBRN, Samarinda: Perkumpulan Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia (P3SI) Kalimantan Timur hadir sebagai organisasi yang mewadahi para penyuluh swadaya yang berperan penting dalam pembangunan sektor pertanian di Kalimantan Timur, sejak terbentuknya pada 2014. Dengan fokus pada pemberdayaan petani, peningkatan kualitas SDM, serta pemanfaatan teknologi pertanian, P3SI Kaltim menjalankan berbagai program pendampingan dan pelatihan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal ini dibahas melalui program Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Samarinda, Selasa (2/12/2025), menghadirkan Ketua P3SI Kalimantan Timur, Murtianusyauri DP, dan Wakil Sekretaris P3SI Kalimantan Timur, Jumri SP.
Dalam dialog tersebut, Murtianusyauri atau akrab disapa Bang Uri menjelaskan bahwa P3SI adalah wadah bagi para penyuluh pertanian swadaya yang berdiri sejak 2014, berawal dari APSI dan kemudian mengalami reorganisasi menjadi P3SI sesuai ketentuan Kemenkumham. Organisasi ini kini menjadi bagian penting dalam ekosistem penyuluhan nasional, termasuk telah terintegrasi di sistem Simluhtan.
Bang Uri menegaskan bahwa peran penyuluh swadaya semakin krusial karena jumlah penyuluh ASN terus menurun setiap tahun, sementara kebutuhan pembinaan petani justru meningkat. Di Kalimantan Timur, jumlah penyuluh swadaya mencapai sekitar 450 orang atau sekitar 30 persen dari total penyuluh yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Tren ini menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap penyuluh berbasis masyarakat.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi sektor pertanian Kaltim tetap berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi penyuluh maupun petani. “Banyak penyuluh swadaya yang sudah berusia lanjut dan memiliki keterbatasan kompetensi, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian juga semakin rendah,” ucapnya. Kondisi ini membuat regenerasi di dunia pertanian berjalan lambat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, P3SI terus mendorong transformasi dan inovasi, termasuk penggunaan teknologi pertanian yang kini berkembang pesat. Bang Uri menjelaskan bahwa teknologi berbasis digital seperti sistem pemantauan berbasis ponsel hingga penggunaan drone untuk budidaya sudah saatnya diperkenalkan lebih masif di Kalimantan Timur, terutama kepada generasi muda.
Sementara itu, Jumri SP, menambahkan bahwa pengembangan pertanian tidak bisa lagi dikelola secara parsial. Kehadiran P3SI harus menjadi bagian dari skema pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media agar seluruh proses mulai dari budidaya, rantai pasok, hingga tata kelola usaha dapat berjalan lebih sistematis dan berdampak langsung bagi petani.
Menurut Jumri, inovasi pertanian bukan hanya soal teknologi budidaya, tetapi juga pembaruan dalam sistem kelembagaan dan ekonomi petani. Karena itu P3SI Kaltim secara bertahap menyiapkan pelatihan-pelatihan berbasis spesialisasi, seperti pelatihan komoditas aren, penguatan kelembagaan kelompok tani, manajemen rantai pasok, hingga pelatihan ekspor untuk memperkuat nilai tambah produk pertanian lokal.
“Sampai saat ini, P3SI sudah terbentuk di lima kabupaten/kota yaitu di Samarinda, Penajam Paser Utara, Balikpapan, Kutai Barat, dan Kutai Timur, sementara daerah lain ditargetkan rampung pembentukannya pada 2026,” ujar Jumri. P3SI menilai kehadiran organisasi di setiap daerah penting sebagai “rumah besar” bagi para penyuluh swadaya untuk meningkatkan kapasitas, menyampaikan aspirasi, serta memperluas jejaring.
Di akhir dialog, kedua narasumber menegaskan bahwa potensi pertanian Kalimantan Timur sangat besar, terutama dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan memperluas pasar komoditas lokal. Oleh karena itu, peningkatan produksi, hilirisasi, dan pemanfaatan teknologi menjadi agenda penting P3SI untuk mendorong petani lokal lebih berdaya sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Program ini diharapkan menjadi kolaborasi berkelanjutan untuk memperkuat masa depan pertanian Kalimantan Timur.